Definition of Thinking

Apa itu berpikir? Apakah melamun termasuk berpikir? Apakah anak kecil yang berkhayal juga termasuk melakukan kegiatan berpikir? Mari kita perhatikan definisi dari beberapa orang pakar paling terkemuka saat ini. Definisi pertama diberikan oleh Keith J. Hoyoak and Robert G. Morrison pada tahun 2014, dalam pengantar buku  “The Cambridge Handbook of Thinking and Reasoning” dan The Oxford Handbook of Thinking and Reasoning” melontarkan definisi ini: Thinking is the systematic transformation of mental representations of knowledge to characterise actual or possible states of the world, often in service of goals.1) Secara harfiah, berpikir adalah tranformasi sistematis terhadap gambaran mental tentang pengetahuan untuk memaknai keadaan dunia yang aktual atau yang mungkin, sering sekali untuk mencapai suatu tujuan. Mari kita artikan secara sederhana:

Pertama: Manusia sering kali (baca: tidak selalu) memiliki tujuan dalam berpikir, misalnya: kita berpikir untuk memecahkan suatu masalah, merancang sebuah bangunan, merancang sebuah sistem atau bahkan hal-hal sederhana untuk mendapatkan tiket gratis nonton konser.

Kedua : Untuk tujuan ini, maka manusia memaknai kenyataan atau kemungkinan kenyataan secara berbeda-beda. Contoh: ada orang berpendapat bahwa handphone terbaik adalah merek A, ada yang berpendapat bahwa handphone terbaik adalah merek B, dst. Contoh lainnya adalah orang berpendapat bahwa durian adalah buah yang paling nikmat di dunia, sementara itu banyak orang Barat berpendapat durian itu rasanya seperti bawang putih dan baunya seperti bau kaos kaki yang sudah lama tidak dicuci. Jadi cara memaknai hal yang sama berbeda bagi berbagai orang. Hal ini sering disebut persepsi. Persepsi itu sangat penting dalam berpikir. Bahkan seorang ilmuwan Harvard University, Dr David Perkins menyatakan bahwa persepsi menentukan 90% kesalahan berpikir dalam kehidupan sehari-hari adalah sesungguhnya kesalahan persepsi.

Ketiga: Otak kita mengubah suatu kenyataan (atau hal-hal yang mungkin nyata) di dunia menjadi persepsi kita terhadap kenyataan itu. Pengetahuan kita tentang dunia ini dipersepsikan dan menjadi gambaran mental tentang kenyataan itu.

Keempat: berpikir itu mengubah pengetahuan kita tentang dunia ini untuk tujuan yang akan dicapai secara sistematis. Contohnya: Kenyataan yang ada: Anda diberikan uang Rp. 3 miliar rupiah. Terhadap kenyataan ini bagaimanakah apa yang Anda akan lakukan? Ada orang yang berpikir, lalu memutuskan mau menanamkan semua uang itu. Ada yang mau menyumbangkan sebagian dari Rp 3 miliar dan  menanamkan sebagian uang itu. Ada juga yang menyumbangkan semua uang itu. Apa yang terjadi? Orang-orang secara sistemmatis memahami apa yang terjadi, memahami apa hubungan uang itu dengan dirinya, memahami keadaan di luar dirinya dan memutuskan (memilih salah opsi dari sejumlah opsi yang ada). Orang pertama mungkin masih sangat membutuhkan uang itu dan hasil investasi uang itu. Oranag kedua mungkin memerlukan uang itu, tapi masih ingin berbuat amal. Orang ketiga tidak memerlukan uang itu dan memutuskan menyumbangkan semua dengan tujuan bisa mendapatkan ganjaran rohaniah. Ketiga orang ini memiliki tujuan yang tidak sama persis.

Reference:

  1. Keith J. Hoyoak and Robert G. Morrison, 2014
  2. Photo by: unplash.com
Advertisements