Mengapa Berpikir yang Baik itu Penting?

Perubahan (Change

Heraclitus dari Efesus (+/- 535 – 475 BC), seorang filsuf besar mengamati alam ini dan menyimpulkan bahwa satu-satunya hal yang konstan (tetap) adalah perubahan. Dia menyatakan secara sederhana:

  • Everything changes and nothing stands still.
  • You could not step twice into the same river.

Segala sesuatu berubah dan tidak ada hal yang tetap sama. Dalam pengamatannya: kita tidak bisa melangkah ke dalam sungai yang sama dua kali. Maksudnya: pada langkah pertama kita ke dalam sungai, kaki kita dialiri air. Pada kesempatan berikutnya kita melangkahkan kaki, airnya sudahnya sudah mengalir ke bawah, jadi kaki kita dialiri air yang lain lagi. Jadi, di dunia ini semuanya berubah. Kita berubah, baik secara fisik maupun non fisik. Secara fisik kita makin tua. Secara mental kita juga berubah, mungkin menjadi makin kuat menghadapi berbagai tantangan, mungkin juga makin juga sebaliknya. Kemampuan kognitif (berpikir) kita juga mungkin berubah, misalnya kita makin pandai membuat keputusan yang baik. Alam sekitar kita berubah, misalnya : hutan makin berkurang, suhu makin panas, permukaan air laut makin tinggi dan seterusnya. Jumlah penduduk bertambah terus, perilaku manusia seacra perlahan juga berubah seusai dengan jaman, teknologi atau keadaan lainnya. Teknologi berubah.
Karena semuanya berubah, kemampuan kita berpikir juga harus berubah menjadi makin baik. Albert Eintein (1879 – 1955), pemenang hadiah Nobel Fisika 1921, menyatakannya secara sederhana dan tepat:

  • The significant problems we face today cannot be solved at the same level of thinking at which they were created.”

 Maksudnya masalah-masalah penting yang kita hadapi saat ini harus dipecahkan dengan cara berpikir yang berbeda dari cara berpikir yang menghasilkan masalah-masalah itu. Kita memerlukan pendekatan berpikir, cara berpikir dan keterampilan berpikir yang berbeda untuk mengatasi masalah-masalah yang ada sekarang ini.

Photo Jatiluhur, Dec. 2015 by: Andreas Chang

Advertisements