Cogito Ergo Sum

Filsuf René Descartes (baca: Rene dekart) lahir di Perancis 1596 menyatakan Cogito Ergo Sum. Terjemahan bebasnya: Saya berpikir karena itu saya ada, dalam bahasas Inggrisnya: I think, therefore I am, dalam bahasa Perancisnya: je pense, donc je suis. Maknanya adalah dalam diri saya, ada unsur berpikir.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa, manusia (dan juga beberapa mahluk lain) melakukan aktivitas berpikir untuk bertahan hidup atau memperbaiki kehidupan. Seringkali kita melihat di TV bagaimana seekor sekelompok simpanse bisa berburu bersama, demikian juga paus bungkuk (humpback whale) atau serigala. Meskipun manusia tidak dikaruniai otak yang paling besar, manusia adalah mahluk yang paling pandai dalam berpikir.

Ago Ergo Erigo

Guru berpikir saya, Dr. Edward de Bono, lahir di Malta pada tahun 1933 adalah salah seorang terkemuka dalam mengajar keterampilan berpikir. Beberapa bukunya yang sangat terkenal adalah the Six Thinking Hats, Lateral Thinking, DATT (Direct Attention Thinking Tools) dan sebagainya. De Bono menyatakan bahwa tidak cukup hanya menyadari Cogito Ergo Sum , tapi hari Ago Ergo Erigo (I act, therefore I construct – Saya Berpikir, karena itu Saya Bertindak)1.

Dalam tulisan saya sebelumnya saya menyampaikan Singapura yang dibangun oleh Lee Kuan Yew dan rekan-rekannya sehingga menjadi salah satu negara termaju di dunia. 2)  Dalam tulisan yang sama juga saya mengulas pembangunan Korea Selatan oleh Park Chung Hee. Jika direfleksikan kepada pembangunan di Indonesia. Apa yang salah?

Dugaan saya adalah antara lain kemampuan berpikir para pemimpin terutama kemauan mereka untuk membangun bangsa Indonesia menjadi negara hebat. Secara sumber daya alam, Indonesia jauh lebih unggul dari kedua negara tersebut. Secara sumber daya manusia juga sebenarnya kita sangat unggul. Yang belum adalah kemampuan berpikir desain (design thinking) dan kemauan bertindak untuk mewujudkannya.

Seandainya 30% saja manusia Indonesia mampu berpikir dengan baik dan bertindak baik, bangsa kita akan mengalahkan banyak bangsa lain dalam berbagai bidang. Kenyataanya pembangunan manusia (Human Development Index) Indonesia masih berada di tingkat yang sangat rendah. Seperti kita ketahui, Index ini mengukur indikaor harapan hidup, pendidikan dan pendapatan per kapita. Indonesia berada di posisi 110 dari 185 negara anggota PBB. Singapura berada di posisi 11 dan Korea Selatan di posisi 17.

DSC_0598

Foto: Suatu pagi di Kamboja, negara dengan HDI di urutan 143 dari 185 neagara.

So What?

Selim Jahan, Direktur Kantor Laporan Pembangunan Sumber Daya Manusia (Director of the Human Development Report Office) menyimpulkan perlu adanya tindakan kolektif, dan juga koordinasi dan komitmen global untuk memperkuat daya tahan untuk menghadapi kerentanan yang makin berasal dan berdampak global.3)

Di Indonesia, langkah paling penting adalah perbaikan mutu and APK (angka partisipasi kasar pendidikan), perbaikan kesehatan dan peningkatan kemampuan ekonomi mikro maupun makro. Jadi, marilah kita berpikir untuk merancang dan bertindak  membangun Indonesia yang lebih cerdas, sehat, sejahtera, dan bahagia, tentunya berdasarkan Panca Sila. Jangan sampai terlambat memulainya. Merdeka.

 

Reference:

1. de Bono, Edward. H+ (Plus) A New Religion?: How to Live Your Life Positively Through Happiness, Humour, Help, Hope, Health. Vermilion, London, 2006. pg. 53. ISBN: 00919190471.

2. https://andreas-chang.com/2015/12/12/thinking-problem-solving-and-decision-making/

3. Jahan, Selim (2015), 2015 Human Development Report – Rethinking Work for Human Development, http://hdr.undp.org/en/rethinking-work-for-human-development, akses: 24 Des 2015.

4. Photo credit: Unsplashed.com

5. Photo: andreas-chang.com

 

Advertisements