Mantan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Li Lanqing menulis buku berjudul Breaking Through – The Birth of China’s Opening-up Policy. Dalam bahasa aslinya : tu wei – guo men chu kai de sui yue. Buku ini menggambarkan perubahan besar yang dialami oleh bangsa Tionghoa. Perubahan besar setelah Deng Xiaoping meluncurkan gaige kaifang (改革开放) pada tahun 1978. Sebagian dari kita masih ingat bahwa pada tahun sebelum 1978, Tiongkok sangat tertinggal dari negara-negara lain termasuk tertinggal dari Indonesia. Namun Tiongkok saat ini adalah negara kedua terbesar secara ekonomi setelah Amerika Serikat (AS). Tiongkok diprediksi akan melampaui kekuatan ekonomi AS dalam waktu dekat ini.

Civilization

Foto: kampanye tentang berbudaya/beradab pada waktu Olympiade Beijing, 2006: Jadilah warga yang beradab. 4)

Pencapaian yang luar biasa di bidang ekonomi ini dapat dilihat dari merek-merek mobil mewah, pakaian mahal, restoran dan hotel kelas bintang 5 dan sebagainya di setiap kota di Tiongkok. Sebuah perusahaan konsultan top menyatakan bahwa 75 persen dari konsumen di kota besar memiliki penghasilan Rp 126 juta sampai 476 juta per tahun.1)  Tiongkok memiliki lebih dari 1 juta orang miliarder. Di Tiongkok, ada 109 juta orang yang memiliki kekayaan antara $50,000 and $500,000 (atau 700 juta sampai 7 miliar rupiah).2)

Untuk memenuhi permintaan dari konsumen ini, pemerintah membangun banyak sekali infrastruktur, museum dan tempat wisata. BBC Knowldge memperkirakan setiap hari dibuka 1 museum baru di Tiongkok. Pihak swasta seperti berlomba membangun mall dan berbagai industri bertujuan konsumsi di dalam negeri maupun untuk ekspor. Pertumbuhan ini menarik negara-negara lain ikut menjadi makmur karena Tiongkok memerlukan banyak sekali sumber daya alam (batu bara, minyak, dan tambang lainnya) dan juga bahan mentah seperti kayu, karet dan sebagainya. Gejala ini disebut di flying geese effect (efek angsa terbang, dimana ada 1 angsa yang terbang paling depan, dan di kiri-kanannya terbanglah angsa-angsa lain sehingga membentuk huruf V).

Apa yang tertinggal di Tiongkok? Kemana pun kita berjalan di sebagian kota, kita merasakan suasana yang berbeda. Orang bisa membuang ludah seenaknya. Cobalah kita bertanya jalan, sangat sedikit orang yang ramah menjelaskannya pada kita (hal ini terbalik dari Korea Selatan atau Taiwan, dimana banyak sekali orang yang dengan ramah mau membantu orang asing). Di dalam kendaraan umum, anak muda tidak memberikan tempat duduk pada orang tua. Jangan coba menawar seperti kita menawar harga barang di Indonesia, kalau tidak mau dibentak. Dimana ajaran Konghucu? Dimana ajaran tentang berbakti pada orang tua?

Jadi, kemajuan tidak bisa diukur dari sudut fisik saja. Pendidikan Karakter dan Peradaban perlu menjadi sentral. Perlu ada revolusi mental. Sejak diluncurkan oleh Deng Xiaoping Konsep  “two civilisations” or “ program dua peradaban” (liangge wenming 两个文明), yang membedakan “material civilisation” (wuzhi wenming 物质文明) and “spiritual civilisation” (jingshen wenming 精神文明) 4), peradaban masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa yang memiliki sejarah lebih dari 5.000 tahun ini.

Jangan heran, kalau kita selalu melihat ada tulisan Wenming (文明)di berbagai tempat, di taman, di toilet, di airpot dan sebagainya. Foto di bawah di ambil di sebuah toilet.3) Terjemahannya: satu langkah kecil ke depan (maksudnya buanglah air kecil dengan berdiri sedikit ke depan, atau sebagai manusia lakukanlah satu langkah kecil saja yaitu mau ke depan), (menjadi) satu langkah besar dalam berbudaya/beradab.

one-small-step-forward-a-big-step-for-civilization-61951

  1. http://www.mckinsey.com/insights/consumer_and_retail/mapping_chinas_middle_class
  2. http://money.cnn.com/2015/10/14/news/economy/china-middle-class-growing/
  3. https://eastisread.wordpress.com/2013/01/23/chinas-civilized-cities/
  4. Boutonnet, Thomas, Global Fence, “From Local Control to Globalised Citizenship:The Civilising Concept of Wenming in Official Chinese Rhetoric”,pp 79 – 103

     

Advertisements