“Terjebak” di Danau Tonle Sap

Pada waktu musim hujan, danau terbesar di Asia, Danau Tonle Sap “berkembang” menjadi sangat luas dan dalam. Danau ini bisa mencapai kedalaman 14 meter pada saat musim hujan. Luas maksimumnya adalah 100 km (lebar) dan 250 km (panjang). Permukaan airnya “hanya” 2,500 km persegi pada saat musim kering dan meluap mencapai 12,000 km persegi pada musim hujan. Bayangkanlah sebuah danau yang panjangnya dari Jakarta sampai Sumedang (pinggiran Bandung). Danau air tawar raksasa ini dikelilingi oleh lima provinsi.
_DSC0712
Perkampungan di danau

Pada saat musim hujan, semua penghuni yang tinggal di tinggal di rumah-rumah apung mengungsi ke pinggiran danau. Mereka  menambatkan rumah mereka di pinggir-pinggir kanal sampai musim hujan selesai dan mereka mulai kembali ke tengah danau. Fenomena ini menarik untuk diamati. Lebih menarik lagi adalah, semua keluarga memiliki dua “kavling” atau  lokasi tempat tinggal yaitu satu di tengah danau pada saat bukan musim kering dan satu lagi kavling pada saat musim hujan. Lokasi di pinggir danau ada di kanal-kanal dan ditandai dengan satu tongkat kecil yang diikat dengan tali rafiah. Uniknya para pemilik rumah-rumah apung itu saling tahu dimana tongkat mereka dan dimana harus mereka tambatkan rumah apung mereka pada saat musim hujan.
Tonle Sap
Gereja Terapung sekaligus pusat pendidikan
Hidup dalam Jebakan Tonle Sap 
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari mereka yang hidup di danau ini secara turun temurun? Sebagian besar masyarakat di danau Tonle Sap hidup sebagai nelayan. Ikan, udang dan hasil danau lainnya cukup berlimpah. Meskipun demikian, sebagian dari mereka masih hidup berkekurangan. Pada tahun 2006, Navy dkk memperkirakan ada 72% keluarga yang hidup miskin. Masyarakat yang hidup di danau ini seperti terjebak dalam rutinitas yang berkepanjangan. Cara mereka menjalani hidup praktis tidak banyak berubah selama berabad-abad.
Akibatnya, diperlukan kerja keras untuk mendirikan sekolah yang bagus.Kampung-kampung yang ada di danau ini tidak memiliki pendidikan yang memadai. Sekolah yang ada hanya sampai setingkat SMP saja. Untuk bersekolah di SMA anak-anak muda harus ke kota kecil Siem Riep yang berjarak 15 km dari danau.
Sekolah Terapung
Sekolah terapung
Apa maknanya bagi hidup kita?
Sering kali kita pun terjebak dalam “Danau” kita yang indah tanpa melihat horizon lain yang memberikan nilai berbeda. Kita puas dengan keadaan di sekitar kita, padahal orang, perusahaan, institusi atau negara lain sudah berkembang sedemikian rupa sehingga kita tertinggal di belakang.
Referensi:
  1. Varisa, O, et al. (2006) Case Study for HDR Tonle Sap Lake, Cambodia: Nature’s affluence meets human poverty.
  2. Navy, H. et al. (2006), SOCIOECONOMICS AND LIVELIHOOD VALUES OF TONLE SAP LAKE FISHERIES, ADB
  3. http://www.tourismcambodia.com/travelguides/provinces/siem-reap/what-to-see/76_the-great-lake-tonle-sap-floating-village.htm
  4. http://www.livelearn.org/sites/default/files/docs/NEEACInfo_Guide_ENG.pdf
Advertisements